“The city of the future needs to be thought of differently from how we considered cities in the past. A city that encourages people to work with their imagination goes well beyond the urban engineering paradigm in city making”
(Preface “The Creative City” oleh Charles Landry, 2008)
Hal terbaik dari tidak punya kampung halaman selain Jakarta adalah saya (terpaksa) belajar mencintai kota ini. Hal-hal yang kecil dan kadang terlupakan seperti: gang-gang kecil, makanan pinggir jalan, dan hangatnya orang-orang kalau kita sempat menyapa, masih bisa saya temukan walau sudah semakin jarang. Buat saya, Jakarta selalu menggoda.
Akhir-akhir ini Jakarta menjadi begitu menarik. Dia begitu ramah untuk orang-orang yang hidup dan berkegiatan di dalamnya. Argumen saya: Jakarta terasa lebih ramah untuk penduduknya karena ada ruang-ruang publik yang dibentuk agar manusia berinteraksi dalam konteks seni dan budaya. Tak perlu lagi menunggu setahun sekali ke Pekan Raya Jakarta, atau mengantri masuk Ancol saat malam tahun baru. Saya bersyukur bukan kepalang. Tadinya sekedar senang karena ada alternatif aktifitas selain pergi ketemu teman di mall atau restoran. Namun, beberapa tahun yang lalu, saya berjalan kaki dari rumah teman dan merayakan tahun baru sambil minum kopi panas 50 meter dari Bundaran HI; dan nonton teater Ariah dengan nyala lampu Monas sebagai backdrop-nya lumayan membuat saya bangga dengan kota ini.
Seni dan budaya sebenarnya bukan hal baru untuk kota ini. Terbentuknya ruang-ruang baru (terutama yang mengintegrasikan nilai seni dan budaya) ini sudah lama terjadi tapi tetap sangat penting buat masa depan kehidupan masyarakat di Jakarta. Sejak masih disebut Batavia, peran Jakarta sebagai kota pelabuhan mau tidak mau membuat kota ini menerima pengaruh budaya dari bermacam-macam orang yang singgah. Dalam pergerakkan perjuangan kemerdekaan pun, di Jakarta yang menjadi salah satu poros, seni dan budaya memainkan peranan yang begitu penting. Lihat saja puisi, lagu, dan komposisi yang Chairil Anwar, W.R. Soepratman, dan Ismail Marzuki buat menemani bentuk pergerakkan intelektual dan fisik yang berlangsung. Inisiatif membangun kompleks Taman Ismail Marzuki (yang kemudian dilanjutkan dengan mendirikan Institut Kesenian Jakarta) harus diapresiasi. Langkah besar Ali Sadikin memenuhi lobi para tokoh seniman yang mencari ruang untuk berkreasi dan menghasilkan karya, menunjukkan bahwa kebutuhan ini sudah lama ada.
Hanya saja, saat itu, kebebasan berekspresi sempat menjadi begitu membingungkan karena seniman dan budayawan harus berkompromi dengan batasan-batasan yand diberikan pemerintah Orde Baru. Ekspresi seni dan budaya diatur dalam garis-garis haluan. Bahkan untuk sekedar menonton lakon tertentu bisa menimbulkan pertanyaan (atau mungkin tuduhan?) Seni dan budaya untuk waktu yang sangat lama menjadi eksklusif: dilakukan di area tertentu dan oleh kalangan tertentu, dinikmati oleh orang-orang itu saja, dan semua di dalam pengawasan.
Syukurlah kita sudah bisa bergerak lebih bebas dalam berekspresi. Kebebasan ini juga yang mendorong ruang-ruang kreasi baru. Beberapa tahun yang lalu, walaupun area tertentu di kota Jakarta mulai terbentuk, kalangan yang terlibat (sebagai pelaku maupun penikmat) masih sangat terbatas. Biasanya mereka adalah yang pernah terlibat atau punya akses informasi yang baik ke seni dan budaya.Yang membuat pembentukan ruang-ruang interaksi publik di dua tahun belakangan ini menjadi efektif dalam peleburan seni dan budaya ke dalam masyarakat, adalah karena ruang-ruang ini dibuat di area yang bersahabat. Pergi menonton teater di TIM mungkin bukan pilihan kegiatan yang dirasa nyaman buat banyak orang. Namun, membawa teater itu ke area yang mereka kenal dengan baik akan memberikan konteks yang bisa dikaitkan dengan rasa nyaman dan bersahabat. Ketika pameran seni berarti Kota Tua, pasar malam ada di Monas yang setiap hari mereka lewati, dan olahraga Minggu pagi berarti Sudirman – Thamrin, ada relevansi yang bisa mereka pahami. Ruang-ruang itu menjadi lebih dekat dan mudah didekati sehingga batasan seni dan budaya yang selama ini menjadi stigma menjadi (sedikit) luruh. Berinteraksi dalam kenyamanan akan membuat mereka mencari karya yang bisa menimbulkan rasa yang sama.
Saat ruang-ruang yang bersahabat dengan masyarakat mengambil fungsi baru dengan menyentuh dunia seni dan budaya, mau tidak mau terjadi inklusi. Inklusi seni dan budaya ke kehidupan masyarakat Jakarta, inklusi manusia ke dunia seni dan budaya.
—
Lalu, memang apa pentingnya ada kehidupan seni dan budaya di sebuah kota?
Saskia Sassen saat menulis pengantar untuk Global Network, Linked Cities menyatakan bahwa kota yang memiliki kehadiran seni dan budaya yang aktif menunjukkan kota tersebut ingin melibatkan kreativitas hadir dalam kehidupan kota itu. Dan kota yang bisa bertahan di masa yang akan datang, adalah kota yang kreatif.
Memang kehadiran aktifitas seni dan budaya memegang peran penting dalam mendorong atmosfer kreatif di sebuah kota. kreativitas dalam seni memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan yang tumbuh di era idea-driven knowledge economy – ekonomi yang tumbuh dari ide dan pengetahuan. Charles Landry, seorang pengamat urban yang pertama kali mengenalkan istilah dan kemudian mengembangkan konsep Creative City menyatakan bahwa kreativitas tidak hanya dimiliki oleh seniman atau pekerja kreatif, namun juga oleh peneliti, insinyur, maupun pegawai negeri.
Kreativitas seharusnya memang tidak hanya bicara tentang seni dan budaya. Buat saya, kota (dan atau apa pun) yang kreatif harusnya bisa melampaui sekedar eksploitasi sektor seni dan budaya.
Landry menyatakan bahwa dalam konsep perkotaan kreativitas merujuk kepada imajinasi yang diaplikasikan dengan menggunakan kualitas, yang antara lain meliputi keterlibatan intelligence (kepintaran), inventiveness (kemampuan untuk menemukan hal yang baru), dan learning (pembelajaran) dalam prosesnya.
Yang saya suka dengan ide Creative City adalah bahwa konsep ini tidak melulu menyuruh pemangku jabatan dan sebuah kota untuk menelaah sisi seni dari budaya. Pendekatan Landry untuk setiap kota yang dibantu dan dijadikan studi kasus untuk pembelajaran menunjukkan pendekatan yang berbeda di setiap kota, tergantung bagaimana kota itu selama ini telah dikenal masyarakatnya.
Power over space is not financial, it is a cultural power kata Saskia (yang kali ini bernama belakang) Zukin, seorang sosiolog yang dekat dengan studi perkotaan dan berbasis di New York. Jika kreatifitas ingin menguasai kota ini, dia harus terlebih dulu menguasai ruang-ruangnya. Senangnya, dua tahun terakhir ini di Jakarta para pemangku kepentingan, pekerja kreatif, pemerintah, dan masyarakat seperti sedang berlomba-lomba mengarah ke sana.
Jakarta terlihat sedang berusaha mengintegrasikan ide ini. Penggunaan ruang-ruang terbuka agar masyarakat bisa menikmati dengan seni dan di saat yang bersamaan berinteraksi dengan budaya merupakan hal yang perlu diapresiasi dari Pemerintah Daerah di Jakarta. Penyelenggaraan Ariah di Monas, Car Free Day di beberapa bagian di Jakarta, Festival Jakarta di malam tahun baru, dan Festival Kota Tua Jakarta buat saya merupakan jawaban akan penantian panjang warga kota.
Antusiasme masyarakat yang sangat tinggi dalam setiap kegiatan ini adalah potensi sumber daya manusia. Ini sinyal positif bahwa masyarakat awam pun punya ruang untuk melakukan apresiasi seni dan budaya, sehingga (seharusnya) pembelajaran kreativitas bisa kita mulai dari sana.
Lebih jauh lagi, kita perlu menghindari pengkotak-kotakkan kreativitas agar tidak dikaitkan hanya dengan seni dan budaya. Dulu saya pernah diajarkan bahwa saat melihat budaya, kita sering hanya melihatnya sebagai puncak sebuah gunung es. Bahasa, seni, makanan, cara berpakaian, arsitektur bangunan – semuanya bagian dari budaya. Mungkin karena kata ‘seni’ dan ‘budaya’ sering digunakan bersama-sama, jadinya lebih mudah untuk melihat budaya dalam konteks kesenian. Padahal, menurut analogi gunung es, di bawah laut sana masih ada bagian yang lebih besar dan lebih fundamental, budaya-budaya yang intangible: gaya komunikasi, kebiasaan hidup, manner. Komponen yang tidak terlihat inilah yang justru punya potensi eksploitasi yang lebih inheren.
—
Creativity has never been this crucial to be embedded in Jakarta’s city life. Ruang-ruang, yang baik sengaja maupun tidak, dibuat untuk mendukung kegiatan kreatif akan mendorong kreativisme untuk menguasai kota ini agar akhirnya kreativisme menjadi budaya dari Jakarta dan bukan hanya sekedar konsep yang dimengerti (atau diklaim sebagai milik) pihak-pihak tertentu.
Dalam beberapa tahun ke depan, bila pemerintah kota Jakarta terus menunjukkan political will seperti yang ada saat ini, label Creative City sangat mungkin akan dilekatkan ke Jakarta. Saya sangat menantikannya, namun political will tidak akan cukup membuat Jakarta lebih nyaman dan kreatif kalau kita – sebagai manusia yang memberi nyawa buat kota ini – tidak paham konsepnya. Kita punya waktu untuk tidak hanya mendorong para pemangku kepentingan agar meneruskan dukungan yang ada, tetapi juga mendorong diri kita untuk terus-menerus menemukan kota ini dan memahami kekreatifannya yang tanpa batas.




Leave a reply to Yoris Sebastian Cancel reply