Di sebuah hari Rabu dua minggu yang lalu, saya akhirnya memutuskan untuk mengecek kondisi badan yang sudah beberapa hari tidak enak. Saya pikir karena sedang banyak begadang nonton Piala Eropa, wajar kalau badan saya protes: kenapa sih sok-sok nonton tiga pertandingan selama akhir pekan? Tapi siapa tahu saya sedang lengah dan terkena COVID. Untuk berjaga-jaga, saya mengajak orang rumah untuk tes. Hasilnya saya positif. Puji Tuhannya, orang tua saya tidak. Vaksinasi mereka sudah bekerja! Lalu dimulailah empat belas hari saya habiskan sendirian.
Saya sedikit lebih tenang karena orang tua saya tidak terkena, namun hasil positif tetap bikin saya down. Pertama, karena isolasi mandiri butuh penyesuaian logistik di rumah. Saya suka tinggal di kamar. Kamar saya pun untungnya cukup luas untuk mendapatkan suasana yang sedikit berbeda. Sehari-hari pun saya menghabiskan waktu di sana dan seringnya turun untuk kebutuhan dasar: makan dan bersosialisasi dengan orang rumah. Kebutuhan dasar ini yang justru paling penting untuk dikondisikan selama isoman. Saya kembali harus merepotkan orang tua saya untuk menyediakan makanan dan perlengkapan yang saya butuhkan, serta memastikan kami tetap terhubung. Sungguh tidak nyaman, tapi isolasi mandiri di rumah lebih jadi pilihan buat kami, melihat kondisi fasilitas kesehatan yang mulai penuh di mana-mana.
Kedua, karena memang berita buruk sedang riuh-riuhnya. Dari rumah saya, suara sirene ambulans dan pengumuman di masjid dekat rumah tentang warga yang meninggal terdengar bergantian. Saya tidak tahu di titik apa saya, yang tidak punya penyakit bawaan, harus mengeskalasi ke kondisi yang harus diwaspadai. Saya jadi ekstra waspada dengan keadaan badan saya supaya bisa mendeteksi gejala yang mungkin baru datang. Walaupun tingkat kesembuhannya tinggi, bagaimana pandemi ini melumpuhkan begitu banyak area kehidupan, membuat saya belum bisa menganggapnya jadi sakit biasa. Resikonya masih tinggi sekali. Saya mulai mengatur di kepala apakah ada pekerjaan yang harus saya reschedule karena kondisi saya ini. Kondisi infrastruktur dan sistem pelaporan yang jauh dari sempurna, membuat saya masih belum merasa nyaman dan aman kalau saya mau berdamai dengan pandemi ini. Varian Delta yang baru ini lebih menular, tapi sepembacaan saya tidak lebih mematikan. Saya memang cukup sehat dan jarang sekali sakit, jadi seharusnya saya baik-baik saja, kan? Sayangnya, di titik ini, jawaban yang bisa saya berikan ke diri sendiri adalah: tidak ada yang tahu.
Saya mengabari teman-teman yang sempat ada kontak di dua minggu sebelum gejala muncul. Selain mereka, saya hanya mengabari teman-teman terdekat, minta doa dan hiburan receh. Di bawah, orang tua yang juga sedikit panik mulai mencari informasi. Mereka bertanya ke beberapa saudara yang sempat harus isoman juga. Jadinya yang tahu lebih banyak dari yang saya rasa perlu dikabari, tapi masih tidak apa-apa lah. Saya sengaja tidak memberi tahu terlalu banyak orang karena saya tahu saya tidak terlalu suka membalas pertanyaan dan perhatian yang sama dan berulang. Tapi, saya tahu, it came out of love. Orang tua saya pasti merasa butuh panduan menjaga saya dari jauh. Mereka lah support group untuk membantu ayah dan ibu saya tetap tenang. Dan saya beruntung mendapat limpahan perhatian itu, walaupun dalam perjalanannya cukup melelahkan. Kompromi saya adalah dengan mencatat kondisi saya setiap hari, bersyukur ada yang peduli, dan copy paste jawaban untuk setiap pertanyaan: gimana kondisi hari ini. Tentu saya buat personal dengan panggilan dan info-info trivial di setiap pesan.
Ketenangan mental jadi penting. Saya pikir sebagai seorang introvert, saya akan santai-santai saja harus di kamar terus. Tapi sulit juga ya ternyata untuk memisahkan isolasi fisik ini dengan keterisolasian diri saat fisik saya juga membatasi keterhubungan. Sesimpel saya gampang lelah dan cepat sekali perlu istirahat. Tentu yang paling mudah adalah duduk dan baca, atau cek sosial media. Tapi berita di sosial media mengkhawatirkan, mau komunikasi dengan teman, mereka pasti tidak keberatan tapi tentu mereka ada kesibukan. Saya perlu berjuang untuk menenangkan diri di tengah rasa kalut dan ketidakpastian. Mantra “think happy thoughts” tetap saya anut, tapi memang tidak semudah itu. Saklar kita beda-beda. Buat beberapa orang video Tiktok sudah cukup, buat orang lain melihat foto-foto jalan-jalan di masa pra-pandemi malah menambah hati lebih kalut. Ada hari-hari yang membaca buku seharian di tempat tidur sudah cukup bagi saya. Di hari lain, saya sudah nonton begitu banyak serial, tapi tetap tidak merasa lebih baik Cara kita menavigasi diri berbeda, dan tidak ada yang benar-benar benar. Saya mencoba mencari tenang dalam hal-hal yang dalam kendali saya, sambil berdoa agar yang di luar kendali saya, kalau pun terjadi, semoga tidak terlalu menyusahkan. Yang bisa saya usahakan: istirahat, makan, minum obat, dan melatih kemampuan mendistraksi diri dari pikiran yang tidak membantu.
—
Di awal isoman, beberapa kabar tentang anggota keluarga besar, teman orang tua, dan tetangga yang positif berdatangan. Saya minta ibu berkoordinasi dengan Pak RT untuk menginfokan kondisi saya, supaya terdata. Tapi beliau sepertinya sedang kewalahan karena beberapa hari itu sibuk mencari oksigen untuk warga yang membutuhkan. Di saat yang sama, di media sosial berseliweran posting-an teman-teman tentang teknik proning yang bisa membantu mereka yang saturasi oksigen mulai turun dan tidak punya akses oksigen. Konten berilustrasi dalam bahasa Inggris itu kami bagi ke Pak RT yang kemudian meminta terjemahannya. Waktu dengar ini, gelembung diri saya langsung pecah. Bisa bahasa Inggris dan punya akses ke informasi ini dari sumber langsungnya menentukan jenis informasi yang kita terima. That wealth of information because you just happen to follow the right sources. Networking informasi ini tidak pernah saya sadari begitu mempengaruhi. Toh semua orang kan bisa memilih untuk mengikuti sumber publik ini. Tapi, entah berapa banyak informasi yang tertunda sampainya ke kelompok keterbatasan bahasa (bukan cuma Inggris saja, kemampuan literasi dalam bahasa Indonesia kita juga belum merata), akses teknologi, pilihan media sosial yang diikuti, dan keterbatasan logistik/ infrastruktur.
Perihal logistik dan infrastruktur ini, seperti saya bilang, kamar saya kebetulan sudah terpisah di lantai atas dengan banyak jendela. Jadi memisahkan ruang dengan orang tua saya yang negatif memang lebih mudah. Udara segar bisa selalu masuk menggantikan ‘udara jelek’ bervirus yang saya bawa. Di antara tetangga kami yang masih tinggal di kontrakan petakan, kebutuhan logistik ini jadi tantangan besar. Mau pisah kamar bagaimana kalau semua tidur di satu kamar yang tak berjendela.
Belum lagi saya ngga harus mikirin makan. Setiap ingat ini saya jadi ingin nangis. Ini bukan tentang makan enak. Tapi tentang bisa makan dan bisa makan yang punya nutrisi untuk menjaga badan yang sudah terkompromi kondisinya, supaya tidak kehilangan lebih banyak energi. Walaupun gejala saya cukup ringan: hidung meler dan kepala pusing, tapi saya cepat sekali capek. Dan ini membuat saya sejujurnya ngga punya tenaga untuk mikirin makan. Apalagi tahu kan, kalau sakit, kadang suka males makan. Tapi ibu saya, secara berkala mengantarkan baki makanan di ‘drop off’ point, dan mengingatkan saya waktunya makan. Selama satu minggu, makanan saya tinggi protein, kalori, dan banyak suplemen kesahatan. Minuman sehat kiriman teman juga ikut hadir. Di minggu kedua, makanannnya sudah lebih playful. Spektrum makanannya masih sehat, tapi martabak sudah muncul.
Saya jadi punya perspektif buat mereka yang benar-benar tinggal sendirian karena jauh dari keluarga atau yang harus isoman dengan gejala dalam keterbatasan finansial. Bisa makan saja jadi sebuah tantangan. Kadang bukan pula tentang mampu atau tidaknya menyediakan makanan, tapi sekadar memastikan makanan tiba/ ada saja perlu tenaga. Di tengah gejala, mungkin tenaga untuk memilih makanan bukanlah prioritas. Semua yang ideal, jadi dipreteli ke yang mendasar saja; dan itu pun belum tentu bisa terpenuhi.
Pandemi ini panjang sekali, dan banyak dari kita yang resource uang, energi, dan hubungannya sudah jauh menurun. Melihat kondisi makro, buat saya bikin merasa tak berdaya, tapi semoga hal-hal kecil yang kita bisa lakukan, bisa berdampak. Dicintai, diingat, dan dianggap ada secara personal, selalu punya kekuatan untuk mendorong harap masuk lagi, sekecil apa pun dorongan itu. And we all can use that hope, no matter how small.
Kalau sedang punya resource lebih, yang mungkin ngga banyak, tapi ada, dan ngga selalu tentang uang, tapi juga perhatian, energi, pemikiran, informasi, dan hiburan yang bisa kita kasih sedikit untuk meringankan hari orang lain—yuk. Ngga usah setiap saat, tapi setiap merasa mampu, semoga kita bisa menuang dari apa yang kita miliki.
Check the people you think about, hug the ones you can, be kind to everyone, don’t make it harder for others whenever you can. Dan terlebih dahulu lakukan ini ke diri kita sendiri ya.
Peluk hangat. Semoga kita selalu sehat dan waras.

Leave a comment