Kembali Masuk Gua.

Akhir tahun kemarin saya akhirnya menyadari bahwa saya menulis bukan karena sekadar ada yang ingin saya ceritakan, tapi juga karena ada banyak yang saya tidak mengerti tentang dunia dan diri. Semakin banyak yang tidak saya pahami, semakin saya jadi ingin menulis. Sejujurnya ini bagus, walaupun menyedihkan, karena artinya saya tidak akan pernah boleh ada di titik ‘tahu banyak’. (Mungkin saya ogah menulis cuma karena mau ngomongin sesuatu, kok rasanya itu tulisan yang cuma jadi bagian dari keramaian, bukan tulisan yang ada untuk bertahan. Eh, tapi itu saya saja sih.) Dan, kini saya kembali ada di musim itu. Jadi, kalau kamu mengikuti laman ini, siap-siap akan ada banyak racauan lagi. (Mungkin) kamu akan muak. Peringatan saja.

Per hari Senin kemarin saya libur main di Instagram karena satu dan lain hal. Atau lebih tepatnya karena satu hal yang kemudian berdampak ke lain hal. Setelah berpikir dan merasa, saya memutuskan untuk menjauh dan masuk ke gua yang lebih sepi. Ruang ini mungkin bukan gua, karena ya sama saja publiknya dengan di sana, tapi di sini sepi. Saya tidak perlu interaksi langsung dengan orang-orang, tapi pada akhirnya saya tahu tulisan ini akan dibaca/terbaca. Beberapa dari sedikit orang yang masih sadar saya punya ruang ini pun mungkin baru akan mampir setelah saya sudah kembali lagi ke keriuhan ruang publik lain itu. Tidak apa, waktu memang menyebalkan seperti itu—atau mungkin menyenangkan? Sebuah kapsul waktu untuk ditemukan, atau dikunjungi kembali, nanti, kapanpun itu.

Kembali ke ruang ini tanpa siapa-siapa membuat saya ingin main lempar-lemparan ide dengan diri sendiri. Saya berharap akan lebih banyak menulis—semoga itu terjadi, AMIN. Saya ingin menulis dengan mental main tak jongok: lari tanpa pikir banyak, jongkok saat terancam yang jaga, duduk kalau kehabisan nafas, dan puas saat basah keringatan. Saya ingin puas menulis dengan mentah, menulis yang saya pikirkan tanpa perlu terlalu berpikir. (Walaupun sementah-mentahnya dan se-tidakberpikir-nya saya, pasti saya sudah pilah-pilah bagian yang mau saya bagi. Maaf kalau kecewa.) Saya ingin puas menulis tanpa arah, sampai terengah-engah. Sampai menarik nafas saja susah, tapi masih ingin tertawa-tawa melakukannya lagi. Mungkin bentuknya jadi jurnal harian, mungkin corat-coret cerita baru. Bentuknya apa pun saya belum tahu, dan mungkin saya juga nggak akan terlalu suka kalau suatu hari saya melihat ini lagi. Hanya saja, saat ini saya tidak apa-apa dengan itu. Saya ingin belajar nyaman dengan eksperimen ini yang entah akan ada di mana.

Saya masuk ke gua ini cuma bawa kebingungan dan ke-tidakmengerti-an, satu-satunya bekal untuk berjalan. Jadi semua yang ada setelah ini adalah turunan dari keuwet-uwetan itu. Uwet-uwet ini rencananya mau saya taruh di bawah mikroskop untuk melihat ke tingkat seluler, mencari protein penyebab kusutnya diri.

Leave a comment