Si Mas yang tinggal di depan rumah dengan istri dan anak tirinya sedang duduk di mulut pintu waktu aku pulang. Setiap isapan dan hembusan rokoknya seperti dilepaskan dengan banyak cerita dari hari yang panjang yang sudah ia lewati.
Hari sudah malam. Di gang ini, jalanan adalah sebuah ruang keluarga yang dibagi bersama. Setiap pulang adalah medley, ”Permisi, Mas/ Om/ Tante, Bu,” atau memastikan anak-anak yang sedang berlari tanpa melihat ke depan, tidak kaget saat badan mereka menabrakmu. Dulu aku ingin protes, tapi jika satu ruang yang kau sewa kau bagi dengan tiga orang lain di keluargamu, dan kamu menggunakannya untuk makan, tidur, nonton TV, dan memasak, kau pasti ingin lari dan menyendiri, walaupun kau melakukannya dengan selusin tetanggamu.
Aku sudah melewati bagian teramai gang. Setengah lagi menuju rumahku yang di ujung, agak sepi.
Sepuluh meter menjelang sampai, orasinya terdengar. Mengomentari sesuatu yang dikatakan istri atau anak perempuan remaja itu. Katanya:
“Memang merela itu mudah? Enak saja. Merela itu hanya mudah bisa kalau tidak terpaksa atau tidak dipaksa.” Seperti biasa ia bertelanjang dada dengan sarung diikat di pinggangnya. Kakinya setengah ada di dalam, setengah di luar, disenderkan di sadel motornya.
Asap putihnya terasa lebih dramatis memenuhi kekosongan pikiran dan suaranya. Aku memperlambat langkahku, berharap mendengar kelanjutan kata-katanya.
”Sudah pulang, Non?” tanyanya.
”Iya, Mas,” aku menganggukkan kepala yang lebih banyak kuartikan sebagai hormat dari pada mengiyakan pertanyaannya.
”Yang paling susah itu,” lanjutnya saat aku membelakanginya untuk membuka pintu pagar, ” adalah melepas saat kamu masih kuat. Saat kamu masih bisa bilang, ’Tapi kan,—-‘.
Ini tuh bukan perkara merenggangkan ikatan. Kamu boleh saja keras kepala melepaskan simpul dan ingin menyelamatkan talinya. Padahal jelas jarimu tebal dan tidak berkuku.
Melepaskan di antara, ’tapi kan’ dan ’masih bisa kok’ adalah yang tersulit. Sudah ambil gunting, biar dia yang putuskan. Tak perlu kau keras seperti itu”
Hembusan rokoknya terasa begitu tebal dan panjang di akhir kalimatnya itu.
Aku masuk ke rumah sambil merasa setengah beban pikiranku menguap menjadi satu dengan asapnya itu.

Leave a comment