Entah ada apa dengan tahun ini. Akan menarik sekali kalau kita sudah melewatinya dan melihat ke belakang untuk akhirnya bisa mengerti kenapa tahun ini terjadi seperti bagaimana adanya. Yang terasa sekali, dan sangat bertubi-tubi buat saya pribadi adalah kehilangan. Buat banyak orang kehilangannya ada di aspek yang lebih materiil: uang, pekerjaan, kesempatan usaha, pertemuan dengan yang disayang. Itu terjadi juga dengan saya. Tapi per hari ini, entah kenapa saya sedih sekali begitu mendengar Sapardi Djoko Damono meninggal.
Saya bukan pengikut atau penikmat terbesar Pak Sapardi. Puisi selalu mengintimidasi saya, sampai belum mulai membaca pun saya seringnya antipati. Tapi saya memang sempat merasa puisi isinya cuma semburan kata-kata indah dan terdengar ‘pujangga’ tapi hanya sedikit yang bisa menggunakan batasan kata dan kiasan itu untuk mencapai kedalaman rasa. Mungkin saya juga yang payah, menolak duluan sebelum meresapi, mungkin saya saja yang belum dapat celahnya. Saya baru mulai nyaman mengeksplorasi puisi beberapa tahun ke belakang. Bisa jadi karena saya juga sudah mulai menulis untuk anak-anak, akhirnya saya menyadari bahwa menulis dengan singkat dan dalam batasan kata itu sangat susah. Saya punya rasa hormat baru buat mereka yang bisa begitu menulis dengan memilih kata yang begitu tepat, sehingga tak ada yang terasa sia-sia. Saya mulai membaca beberapa puisi yang seperti itu berulang-ulang hanya untuk benar-benar mengerti, bagaimana bisa mengartikulasikan rasa hanya dengan paduan kata yang tepat. Di beberapa karya, kata-kata yang berdampingan itu sedemikian kuatnya, sampai saya bisa melihat adegan yang bisa dituliskannya dengan begitu nyata.
Sejak menulis buat anak-anak, saya merasa kemampuan menulis saya jadi repetitif. Saya menulis dengan keterbatasan kata yang sederhana supaya anak-anak bisa mudah mengerti. Kata-kata besar saya hindari, padahal dulu saya paling suka menggunakannya. Tapi apa artinya saya gunakan kata-kata besar itu, kalau mereka yang saya ceritakan tak bisa mengerti? Di awal menulis saya sempat merasa pemilihan kata-kata yang sederhana akan menurunkan nilai saya sebagai penulis, dan itu mengganggu saya. Ketika saya mulai benar-benar menulis dan berinteraksi dengan ide-ide besar yang saya ingin terjemahkan secara sederhana, saya baru menyadari masalah besar yang saya hadapi. Menyederhanakan ide besar dengan sederhana adalah hal yang amat susah, apalagi untuk tetap bisa membuatnya mengalir dengan indah dalam bahasa Indonesia yang baik. Susah. Di saat inilah saya mulai menengok ke puisi-puisi dan apa yang mereka lakukan untuk bercerita dalam minimalisme kata. Puisi Pak Sapardi jadi salah satu yang saya pegang. Indah, sederhana, penuh rasa. Saya tidak pernah ketemu beliau, tapi dengar dari mereka yang pernah bertemu atau beruntung menghabiskan waktu bersama dengannya saja rasanya hangat sekali. Mungkin itu yang membuat saya sedih sekali. Kehilangan kesempatan bertemu dengan karyanya atau pribadinya lagi.
Kepergiannya mengingatkan saya untuk kembali ke sini: ke tempat menulis tanpa arah yang sudah lama saya tinggalkan. Tulisan pribadi di jurnal memang masih ada, tapi rasanya kangen juga kembali ke sini dan mencatat hidup dengan lebih rapi dalam ruang yang sedikit publik. Jadi, saya akan mengambil selentingan catatan pribadi saya yang layak tayang di 128 hari terakhir ini. Di-back dated biar lebih terasa perjalanan dan transisinya. Tahun ini sedikit berat dan banyak kehilangan, mulai dari hari pertama.

Leave a comment