Masuk minggu ketiga dan saya mulai lebih sering resah. Mungkin karena terlalu banyak waktu di tangan, yang tidak perlu dipikirkan jadi kepikiran.
Saya lagi sering berpikir tentang pengalaman tinggal di Maine waktu exchange dulu, waktu berjalan pelan sekali, apalagi kalau musim panas. Cuma, di sana banyak sekali hal dan ruang yang bisa diajak berinteraksi, itu yang sayangnya kita gak punya di situasi saat ini. Waktunya banyak, ruang gerak fisiknya sedikit. Ruang gerak virtual nggak bisa selalu memuaskan karena persentuhannya dibatasi layar. Saya sejujurnya merasa kamar studio saya memberi cukup ruang untuk bisa melakukan banyak hal, ada balkon kecil di luar untuk punya tanaman yang bisa disiram dan diajak berinteraksi sekaligus tempat berjemur di pagi hari, work station yang cukup, dan tempat gegoleran sepoi-sepoi kalau sore hari. Tapi, dengan semua keleluasaan ini, ada saja waktu yang dihabiskan memandangi langit-langit dan kebosanan karena sudah tidur-baca-ngopi-makan-nonton-tidur-bengong. Semua yang bisa dilakukan sudah dilakukan.
Lingkungan rumah saya sudah diperketat akses keluar masuknya. Karena banyak gang, cuma ada satu pintu masuk yang dibuka sepanjang hari, yang ditambah satu pintu lagi di jam pergi dan pulang kerja. Pengantar paket dan ojek online dilarang masuk, jadi saya harus janjian sama mereka. Oh, itu satu lagi yang terdampak sekali. Para ojek online ini sudah berkurang sekali pendapatannya karena transport penumpang turun drastis, jadi mereka hanya bisa mengandalkan pengantaran makanan dan paket. Mana sebentar lagi Lebaran.
Per hari ini ada 144 orang yang meninggal dari 1212 pasien yang tercatat. Mortality rate-nya 8.6%. Itu lumayan tinggi, karena di Italia yang sedang disorot sekali karena peningkatan kasusnya yang tinggi, mortality rate mereka kalau tidak salah ada di 6%-an. Dokter-dokter dan fasilitas kesehatan mulai kesulitan mendapatkan peralatan medis yang memadai–terutama, dan anehnya, karena banyak warga umum yang menumpuk masker medis untuk dijual lagi dengan harga yang lebih mahal. (Harga masker yang sekotak biasanya paling cuma 100 ribuan, sekarang sudah ada yang jual sampai harga 700 ribuan. Dan ini masker yang dulu dibagi-bagi gratis kalau naik ojek online itu loh.)
So far, I know for sure my family and I will be okay. But there are so many people struggling financially after this whole lockdown thing, and it’s getting me anxious. At times, I would feel guilty for having enough despite staying at home and not making money for the time being, when I know so many people out there are getting nervous thinking if they would make it to the end of this week.

Leave a comment