Ini hari keempat saya di rumah, hari kedua karantina dilakukan di semua lini kegiatan. Per hari Senin kemarin, hampir 80% kegiatan dirumahkan: sekolah, kantor, mall. Lewat akhir pekan, Jakarta pindah dari ‘dengar-dengar kita harus hati-hati sama corona’ jadi ‘kita bagian dari pandemi ini’. Minggu lalu baru ada tujuh orang, per hari ini sudah ada 170. Tapi masih agak bingung juga sih, 170 itu sudah betul-betul sakit atau baru dicurigai.
Yang agak menyebalkan, banyak orang yang malah jadi berbondong-bondong liburan mentang-mentang sekolah dan kantor dirumahkan. Kabarnya, akses ke Puncak macet. Dan pemerintah juga malah memberikan award untuk pasien pertama yang sembuh, terus dibuat jadi perhelatan media. Pencitraan dan jargon jadi diumbar, untuk ‘menenangkan’ publik. Really?
Jargon. Paling gampang memang. Paling mudah juga untuk dimasyarakatkan–atau bahkan dibudidayakan(?) karena habis ini kayaknya mungkin akan ada banyak jargon turunan. Minggu ini social distancing, beberapa hari lagi pasti ada yang baru.
Pekerjaan harian jadi simultaneous translator, tentu terhenti. Tapi sepertinya saya masih aman kalau karantina seperti ini untuk sebulan ke depan. Simpanan untungnya masih ada, dan dengan waktu yang kosong saya bisa mulai mengerjakan buku baru yang telah lama saya tunda-tunda.

Leave a comment