#01. Dimulai

Jakarta resmi dikarantina hari ini. Tadinya saya dan teman-teman mau keluar makan Sop Kaki Bang Anen di Fatmawati hari Sabtu ini. Tadinya, kalau pun teman-teman saya tidak mau ikut, saya rencananya mau jalan sendiri saja, sambil merayakan hidup seorang teman yang suka sekali makan di sana; tapi dua hari yang lalu ia pergi meninggalkan kami.

Saya menerima kabar kepergiannya saat saya sedang bersiap berangkat untuk kerja. Kamis, jam 11 siang adiknya menelepon saya, mengabari kalau kondisinya memburuk. Jam 11.30, waktu saya sedang pasang helm untuk diantarkan ayah saya, ia menelepon lagi, mengabari kalau akhirnya Brago sudah pergi.

Lalu saya bilang ke ayah saya, “Ayok, jalan. Sudah terlambat.”

Saya bengong selama 15 menit, lalu menangis di sisa perjalanan saya yang satu jam itu. A very ugly cry. Teman-teman di grup sudah ramai mengungkapkan bela sungkawa. Seorang teman lain yang menyampaikan berita dukanya. Saya tidak berani, karena saya juga tidak (mau) percaya. Sesampainya di tempat klien saya minta maaf karena mata saya sembab sambil menjelaskan alasannya dan meyakinkan mereka saya tidak apa-apa dan bisa fokus bekerja. Pekerjaan simultaneous translation ini sebenarnya distraksi yang sempurna, pikiran saya selalu terkompartemen saat sedang menerjemahkan. Hanya saja sebelum sesi mulai dan istirahat di antara dua sesi, saya berantakan. Ditambah saya tahu, saya tidak akan sempat mengantarnya ke makam. Ia dimakamkan sore itu, sesi saya baru selesai jam tujuh malam.

Sialnya, saya bekerja di venue orang. Jadi tak ada ruang pribadi, kecuali toilet, untuk saya menangis. Sialnya lagi, toilet di sana cuma ada dua, dan jelas saya tak bisa berlama-lama di sana. Saya mencari pojokan dapur untuk numpang menangis. Saya mencoba menelepon teman-teman yang saya tahu juga kehilangan, tapi saat mereka menjawab saya cuma bisa menangis lagi. Itu situasi yang super aneh. Saya gak merasa butuh kata-kata penguatan, cuma ingin merasa ditemani saat menangis. Tapi mereka, yang saya telepon, juga bingung masa diam saja. Memang tidak bisa diapa-apakan.

Singkat cerita, saya akhirnya ke rumah sang teman setelah sesi selesai, yang untungnya lebih cepat setengah jam. Tapi rumahnya di Bintaro, saya di Kuningan. Begitu sampai ke sana pasti semua orang yang saya kenal sudah tidak pulang, lalu saya harus kembali ke rumah saya yang di Barat Jakarta sendiri lagi. Tapi untungnya sahabat-sahabat saya menunggui saya malam itu, dan malam itu adalah malam terakhir saya bertemu dengan teman-teman terdekat saya, tanpa jarak dan dalam pelukan hangat walaupun di dalam kehilangan.

Sebenarnya semalam saya masih ketemu dengan seorang sahabat dan suaminya di sebuah lounge dekat apartemen mereka. Mereka datang agak terlambat, tapi kami janji bertemu, walaupun sama-sama sadar kalau area tempat tinggal mereka sudah di zona merah, untuk bisa menangis lagi. Kami gagal menangis, justru banyak menertawakan betapa gobloknya sang teman yang meninggal itu. Saya banyak travelling dengan almarhum, jadi banyak yang ingin saya rayakan dari hidupnya. Dan cara terbaik merayakan kehidupannya adalah dengan merayakan kegoblokannya.

Mungkin saya baru bisa ke Bang Anen dalam dua minggu, mungkin sekalian mau ke makamnya juga; saya belum ke sana. Kata gubernur karantina ini akan selama itu dulu. Semoga tidak lama lagi.

Leave a comment