Saya sudah tidak menulis di sini sepuluh bulan terakhir. Padahal, awal tahun lalu, resolusi saya adalah untuk menulis lebih banyak. Sebagai pembelaan, saya menulis lebih banyak, kok, hanya bukan di sini.
Sebelum mulai meracau lagi dengan tulisan-tulisan yang sejujurnya saya kumpulkan secara analog di jurnal harian saya, rasanya saya hutang update ke teman-teman — kalau masih ada yang baca dan mau tahu.
Hal yang paling signifikan yang terjadi selama saya menghilang di sini adalah Seumpama, si studio buku yang saya buat dengan sahabat saya, dan perjalanannya. Tahun lalu, saya asyik eksplorasi Seumpama sebagai entitas yang mulai dikenal orang. Kami mengawali tahun dengan iseng-iseng menjawab sebuah open call submission dari Komite Buku Nasional, yang kami dapatkan dari seorang teman. Katanya, mereka sedang mecari buku cerita anak yang sudah diterbitkan untuk dikurasi dan diikutsertakan di Bologna Children Book Fair di awal tahun. Jadilah, kami menyiapkan semua kebutuhan data dan dokumen yang dibutuhkan untuk disertakan; hanya untuk menyadari bahwa sebenarnya kami tidak punya semua data dan dokumen yang dibutuhkan. Di awal 2018 Seumpama tidak punya entitas hukum, hanya sebatas dua orang teman yang saling mengingatkan sudah saatnya untuk berkarya dan membuat buku lagi, karena sudah ada yang tahu kalau kami membuat buku. Karena tidak punya badan hukum, buku kami tidak punya ISBN, dan ISBN adalah salah satu data yang diminta untuk disertakan. Tapi, kami pikir saat itu kami punya dua buku, jadi kalaupun submission kami terpental gara-gara ketidaklengkapan ini, setidaknya nama/ buku kami sudah masuk ke awareness mereka. We’d lose nothing.
Terbang dan Waktu Hujan Turun terpilih dan akhirnya dibawa ke Bologna. Kami senang, akhirnya tulisan/ karya kami diakui institusi yang resmi. Pengakuan ini bukan segalanya, but it was a good nudge for us. Kemungkinan buku kami terpilih hanya untuk memenuhi kuota, tentu ada, saya sangat sadar itu. Tapi peduli amat, saya rasa tidak ada yang kebetulan. Kalau pun tidak ada respon untuk buku-buku kami, berarti kami perlu koreksi cara kami menghadirkan cerita. Itu saja. Again, we’d lose nothing.

Sekitar dua atau tiga bulan setelahnya Bologna Children Book Fair, kami dapat email dari seorang pengurus Komite Buku Nasional yang juga adalah salah satu copyright agent. Dia memperkenalkan diri dan memberitahu bahwa ada sebuah penerbit independen di UK yang tertarik dengan buku saya. PENERBIT-DI-UK! Saya ingat berteriak dan mencubit teman di sebelah saya, padahal kami sedang mewawancarai peserta seleksi pertukaran pelajar. Dia orang pertama yang saya beritahu tentang kabar itu. Dia bilang, “Gila.” Saya bilang hal yang sama, dan kegilaan itu berjalan terus sampai ke titik ini: Waktu Hujan Turun akan – dan sudah – diterbitkan dengan judul When It Rains oleh The Emma Press. The Emma Press adalah sebuah penerbit independen di Birmingham yang telah memenangkan penghargaan untuk kiprahnya di dunia literasi. When It Rains resmi terbit tanggal 26 Maret kemarin, dan beberapa hari terakhir ini sebagian dari saya mengawang, mengawang sambil mengamati tubuh saya beroperasi seperti biasa: bangun pagi, menjawab email, buat kopi. Saya ingin sekali bilang ke semua orang betapa anehnya ini semua. Ingin nanya, kok bisa, tapi saya tahu bahwa I’ve been pulling myself closer to this. It’s not something I’ve never imagined. Ini bukan sesuatu yang tidak diusahakan. I’ve been seeing it in my mind’s eyes.

Tapi, kalau dipikir, ini juga bukan sesuatu yang dicapai karena saya lebih jago atau lebih baik. Buat saya, ini semua terjadi di waktu yang tepat dengan apa yang sedang kami lakukan. Saat kami mulai Seumpama, kami ditemukan ke orang-orang yang tepat yang sampai sekarang menjaga dan mendorong kami. Saat kami bergerak ke sana kemari untuk memulai ruang eksplorasi baru, kami dapat informasi bahwa sedang banyak perhatian – dan dana – dari Komite Buku Nasional menjelang keikutsertaan Indonesia sebagai Market Focus London Book Fair 2019. Seringnya kami jadi memang harus mendorong diri kami untuk memperbesar kapasitas atau pura-pura punya kapasitas besar. Kalau kurang berhasil? Ya, sudah. Selama tidak merugikan orang lain, buat saya, tak ada masalah. Pak Nung, yang waktu itu mengirim email ke kami untuk menginformasikan ketertarikan The Emma Press dan kini menjadi agen kami pernah bilang, kalau nama kami menunjukkan sikap kami: “Seumpama berhasil ya syukur, seumpama tidak ya coba lagi.” Nothing can be truer.
Itu yang terjadi. Seumpama kini juga punya Amel, seorang tie breaker yang jago banget membuat saya dan Ninit yang berantakan dan maunya banyak ini lebih terarah dan strategis; kami jadi bisa lebih bereksplorasi membuat konten-konten baru!
–
Akhir Februari kemarin, kami dapat kabar baru: The Emma Press juga baru saja mendapatkan grant untuk mendanai tur buku di UK untuk saya selama dua minggu di bulan Mei dan Juni nanti. Keren? Lumayan. Deg-degan? Banget. Saya masih harus bertanggungjawab atas apa yang saya tulis dan gambar dua tahun yang lalu, dan menariknya karena masih deg-degan ini, saya menyadari bahwa karya ini akan terus tumbuh dan berevolusi, walaupun buat saya karya ini sudah saya anggap selesai. And that possibility of infinite growth and evolution, is so exciting. Itu membuat saya merasa bahwa saya tidak akan pernah selesai. I would never be an end product.
Saya jadi ingat wawancara pertama saya setelah lulus kuliah dulu di sebuah advertising agency. Saya ditanya, “Sepuluh tahun lagi kamu ada di mana?” Saya, yang waktu itu sedang iseng bikin kartu pos untuk dijual, bilang, “Saya pengen punya toko untuk jualan kartu pos saya ini, atau mungkin karya lain yang ada hubungannya sama tulisan yang saya/ teman saya ini buat. Toko kecil aja, tapi jendelanya besar.” Lalu di kepala saya, saya ingat kalau saya memikirkan bunyi bel klining-klining kalau ada yang datang. Saya tidak bilang ini, karena saat itu rasanya tidak substansial untuknya. Dan walaupun yang terjadi tidak persis seperti jawaban saya, saya senang saya sampai di sini.
Wherever we are, we’re not an end product, and I do not dare to say where we – or I – would go from here. It’s better to always find new destinations and realms to explore, and I really prefer to avoid getting stuck in categories or labels. I have some ideas where I think I’d like to go, but let me tell you when we’re closer there. In the mean time, I’d like to keep these dreams my own and no one else’s.
(Tadinya saya ingin melanjutkan ngomong tentang mimpi, kekuatannya, dan keinginan untuk berusaha mendekatinya. Tapi itu jadi topik ceracau berikutnya saja. Panjang soalnya.)
–
Sekian update-nya.
Setelah ini, bersiaplah untuk ceracau yang lebih tak penting. Saya kangen menulis dengan segala kementahan di sini.

Leave a comment