Bertemu Pram

IMG_6752

Namaku Pram is an exhibition on the life and work of Pramoedya Ananta Toer at Dia.lo.gue, Kemang from 17 April – 20 May 2018.

Kunjungan saya ke Namaku Pram beberapa waktu yang lalu mengingatkan saya akan sulitnya saya bisa terhubung dengan tulisan-tulisannya. Membaca adalah salah satu cara kegiatan yang didorong orang tua saya semasa sekolah dulu, namun karya Pram tak pernah masuk di karya yang mereka pikir saya perlu baca. Pertama, karena karyanya dilarang sehingga sulit untuk didapatkan; kedua, karena karyanya dilarang dan keluarga kami keturunan Cina jadi sebaiknya kita main aman dan menghindari kemungkinan terkena masalah. (Ditambah lagi, karena saya selalu didorong membaca dalam bahasa Inggris, saya sempat – untuk waktu yang cukup lama – merasa membaca karya penulis Indonesia itu tidak keren.)

Waktu akhirnya saya berkesempatan membaca, dengan Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels, saya pun masih belum dapat gregetnya. Saya pikir mungkin saya kehilangan konteks dan urgensi dalam tulisannya, karena saya menarik diri dari mau tahu tentang dinamika Pram – Orde Baru. tapi toh waktu saya membaca Native Son-nya Richard Wright, saya tetap bisa terhanyut di dalam konflik rasial masa segregasi di Amerika Serikat walaupun saya tak punya referensi budayanya. Saya mencoba beberapa kali, dengan tertatih, sampai akhirnya saya mulai lagi membaca Bumi Manusia tahun lalu.

Sepanjang pembacaan Bumi Manusia, saya pikir sepertinya Pram tidak menulis untuk menjelaskan sesuatu kepada orang-orang. Bisa didebat, tentu, karena pasti ada hal yang ingin dijabarkan di tulisannya. Tapi, saya sampai merasa bahwa sepertinya bukan itu tujuan utamanya karena saya yang sedang dilakukan adalah caranya mengingat Indonesia yang hadir dalam imajinya di Pulau Buru, Indonesia yang hadir dalam kenangan kolonial yang anehnya masih relevan saat dia menulis (bahkan sampai kita membaca), Indonesia yang sedang mencari bentuk, Indonesia yang begitu ingin dipahaminya, walaupun sesulit itu sampai dia harus nelangsa.

Saya yang sedang menantikan untuk terpesona dengan gaya tulisan yang mencerahkan atau kemulusan narasi yang menghanyutkan tentu terseok, karena dihantam oleh kegilaan gaya tulisan Pram sangat lugas tapi di saat yang sama juga memiliki kekompleksan arti sementara premis ceritanya terlihat sepertinya gampang ditebak, tapi yang terpenting justru terjadi bukan di kejadian-kejadian yang gamblang diceritakan tapi pada nuansa di latar.

Kembali lagi ke Namaku Pram, dengan tembok lini masa kehidupan yang menunjukkan betapa produktifnya Pram dalam rasa dan karya. Ide-idenya seperti membuncah terus di kepalanya, karena banyak yang harus direka tentang konsep kebangsaan, apalagi karena ia menyaksikan sendiri proses belajar berjalannya bangsa. Semua buncahan ini diikuti lalu dipuaskan sampai tuntas; lewat tulisannya semua pertanyaannya ditelusuri hampir seperti terobsesi. Obsesi yang, menurut saya, semuanya terpusat ke satu hal: memahami bangsa ini dan sepenuhnya.

Di sisi taman belakang, sebuah Taman Kata-kata, tempat yang jadi trademark foto pengunjung, kutipan tulisan Pram dicetak di lembaran-lembaran kain. Kain-kain itu digantung berbarisdicetak bolak-balik di kedua sisi kain, lalu terkadang ditiup semilir angin. Sebagian tulisan dicetak besar, sebagian kecil. Sebagian rata kiri, ada yang rata kanan, ada yang tersebar di permukaan. Penutup yang pas buat saya: suara dan pesan yang terus mengiang dari Pram tidak terjadi karena dia meneriakkannya sampai kuping kita pengang; ia terus terngiang karena ia selalu ada, di latar, melayang bersisian.

IMG_6778

 

 

 

Leave a comment