Kereta Jam Sebelas Malam (1)

Dua hari terakhir, aku pulang tepat ketika Kereta Jam Sebelas Malam melewati palang perlintasan kereta api di jalan menuju rumah. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, Kereta Jam Sebelas Malam tepat sedang melewati jalur yang harus aku lalui. Keadaannya saat itu aku harus menginjak rem, supaya aku tidak menyeruduk beberapa motor yang sudah berhenti di depanku. Bayangkan kalau aku tidak melambat, bemper mobil depanku akan rusak. Apa yang terjadi kalau mobilku tidak berhenti tepat waktu? Towelan kecil mobilku apa pun bisa membuat jidat motor mereka menyundul laju kereta besi itu. Dan pastinya, jidat kepala mereka tidak akan hanya lecet, paling ringannya ada kulit kepala dahi mereka terkelupas. Jadi walaupun aku pernah sedikit punya mimpi untuk menjadi lalai, kurasa ini bukan mimpi yang harusnya kucapai.

Setelah gerbong terakhir di malam pertama itu lewat, kami melalui perlintasan kereta api, dan aku memberi koin lima ratus rupiah ke Bapak yang sedang giliran jaga. Dia melambai-lambai tangannya menyuruhku maju. Aku ulurkan koinnya sambil bilang terima kasih. Dijawab, “Makasih, Bos,” seperti biasa. Modalku hanya lima ratus perak untuk jadi bos.

Lalu kulihat di sisi jalan, palang perlintasan otomatis yang sudah dimodali perseroan pengelola kereta api milik negara. Palang otomatis itu ada di dua sisi rel kereta, keduanya hanya sempat digunakan di minggu pertama pemasangan. Itu pun karena memang masih ada petugas resmi perseroan itu yang bertugas setiap harinya. Tadinya kupikir, canggih juga area rumahku yang gangnya masih kampung dan masih sangat mudah melihat tikus kongkow di pekatnya selokan, akan punya palang perlintasan otomatis.

Setelah seminggu berlalu, para petugas penjaga perlintasan tidak resmi kembali menjadi pemberi peringatan kereta datang. Kurasa seminggu tidak mendapatkan pemasukan dari pekerjaan ini sudah mempengaruhi arus beras di dapur dan curahan uang jajan buat beli siomay si Entong di rumah. Alat canggih itu kini hanya bisa berdiri tanpa berfungsi. Kutaksir pengadaan alat itu setidaknya menghabiskan lima puluh juta per alat; ini pengamatan awam saja. Dua alat itu jadi seratus juta. Tapi keseratusjutaan yang dihabiskan itu justru menghabiskan industri informal perlintasan kereta api. Di jalur rumahku saja setiap jam paling tidak ada dua puluh mobil lewat, setiap arahnya. Motor lebih banyak lagi. Tapi motor biasanya tidak kasih koinan ke petugas Pak Ogah mana pun, hanya mobil yang dinanti. Empat puluh mobil per jam. Kalau saja setiap mobil memberi lima ratus perak seperti aku, mereka akan dapat dua puluh ribu per jam. Kalikan lima belas jam, kira-kira saja itu masa tugas mereka, sesuai jadwal kereta. Uang mereka per hari tiga ratus ribu ribu. Per bulan Sembilan juta. Tinggal dibagi berdasarkan aplusan, pasti lumayan. Jadilah alat canggih nan otomatis itu kini hanya jadi pengingat kemajuan zaman yang mengancam manusia kebanyakan, yang akhirnya kita hancurkan sebelum mereka menghancurkan kita.

Itu malam pertama.

Leave a comment