Setelah Ahok

Ini seperti hari Ned Stark, yang dengan naifnya membela Raja Baratheon dan pewaris tahta yang sebenarnya, dipenggal di episode terakhir Season 1 Game of Thrones. Saat menonton kita tahu siapa yang jahat, yang kita belum tahu adalah betapa kecilnya bagian dibandingkan keseluruhan cerita yang masih belum bergulir.

Ini hari yang sama sulitnya buat saya, hanya saja ini nyata. Masih banyak emosi yang membingungkan.

Saya sebenarnya ingin bicara tentang asa di balik putusan Ahok dipenjara, tapi saat ini saya masih ingin sedikit merangkul rasa duka; buat Ahok dan harapan yang sedikit pergi bersamanya.

Boleh saya mulai dengan bilang, “Saya marah sekali”? Saya marah sama orang-orang yang menggunakan agama dan identitas untuk kepentingan (dan keuntungan) politik dan membuat apa yang terjadi di Jakarta saat ini seakan menjadi sekedar perlawanan antara agama mayoritas dan minoritas. Ini memang bukan pertama kalinya. Tetapi setelah banyak melangkah, kembali ke titik ini sungguh menyebalkan.

Saya marah karena beberapa teman saya terbawa kelekatan identitas agama dan etnisitas. Saya marah karena saya pun terbawa melekatkan diri saya dengan identitas agama dan etnisitas – keduanya minoritas – lalu berdiri berseberangan mereka.
(Garis bawahi: ‘mereka’. Saya sedang menarik garis batas pemisah lagi.)

Tapi ini taktik yang umum bukan? Kita terjebak di intrik perebutan kekuasaan di antara mereka yang berkepentingan: para Lannisters, Targaryens, Boltons, dan Starks yang sedang memainkan pionnya. Kita, rakyat jelata, yang terjebak di dalamnya jadi harus ikutan ramai-ramai. Padahal isu yang direbutkan tidak menguntungkan kita segitunya: urusan pembagian area kekuasaan saja. Lalu kita dihadapkan dalam pilihan – atau mau tidak mau terpaksa mengikuti pilihan Tuan kita, Sang Patron –  untuk mendukung Ramsey Bolton atau John Snow di The North.

Saya berusaha sekali untuk tidak melihat apa yang terjadi kepada Ahok dari sudut pandang agama dan identitas. Sungguh, saya berkali-kali mencoba untuk mengecilkan asosiasi etnis dan agama Ahok dalam kasus ini. Saya berusaha keras untuk melihat ini murni sebagai penjegalan politik karena banyak yang dirugikan Ahok yang terlalu bersih dari korupsi.

Tapi boleh kan saya bilang: susah sekali loh untuk melepaskan label agama dan identitas saat label agama dan identitas lah yang selama ini diusung-usung dalam setiap ‘aksi’, saat setiap hari Jumat speaker masjid di dekat rumah saya menyebarkan rasa benci atas ‘kafir’nya individu yang Cina dan Kristen itu. Saya yang merasa cukup terbuka saya atas perbedaan, akhirnya juga ikut terjebak dalam narasi ‘Kita berbeda, maka apa kau bercanda? Mana mungkin kita bisa jadi satu’.

Saya tumbuh dengan diajarkan untuk membela iman saya, bukan agama. Tapi mungkin dalam bentuk kepercayaan yang lain iman sama dengan agama. Saya tidak mau mendebat perbedaan itu. Saya bisa mengerti kalau ada respon yang berbeda saat bagian dari agama itu dikomentari, bisa menyinggung. Itu saya paham. Saat pesan Ahok diterima dengan tersinggung oleh pendengar/ penonton video itu, saya juga bisa paham. Pesannya mungkin tidak diniatkan untuk menghina, tapi kalau ada yang terhina saat pesan itu diterima, itu kan umum sekali ya di konsep komunikasi. Pesan yang diterima seringkali lebih penting dari pesan yang dimaksudkan. Ya sudah. It’s been done. You can’t undo what you say. Ya, saya patah hati, Ahok tidak pantas dipenjarakan. Tapi terpenjaranya Ahok cuma satu sisi koin. Buat saya, Ahok masuk bui tidak mengecilkan kebesarannya.

Ahok, identitas, dan agama hanya judul buku untuk epic perpolitikkan yang sedang dipentaskan. Karakter Ahok tidak bisa menjadi bagian di dalamnya. Saya frustasi karena jika tidak ada orang yang baik di buku ini, dari mana saya bisa berharap akhir yang indah?

Saya bertahun-tahun (mencoba) terlibat dalam kegiatan pemahaman antarbudaya, namun saya tetap tidak siap menghadapi keadaan ini. Konsep ‘tidak ada benar atau salah, yang ada hanyalah berbeda’ dalam pembelajaran antarbudaya jadi tidak berlaku – atau jadi tidak laku. Kali ini konsep yang bisa ditawarkan adalah: ‘kita benar, yang berbeda salah‘ lalu sama-sama mengamininya dalam doa.

Tadinya saya berharap bisa menang dari jebakan narasi ini, karena kita toh bukan hidup di zaman ketika Winterfell, yang cuma punya satu sumber informasi: surat para burung – yang itu pun mungkin saja disabotase.

Tapi ternyata kebanyakan akses informasi tidak membantu nalar kita yang belum terlatih memilih. Timeline saya tetap ada yang anti-Ahok dan anti kekafiran di bulan-bulan menjelang Pilkada Jakarta. Saya kira saya akan bisa lebih paham perspektif yang berbeda. Tapi saya tetap gagal paham, saya tetap jadi muram. Ternyata suara yang berbeda tetap bikin saya tidak nyaman. Nada pembelaan semakin terdengar menyerang, mereka yang bertahan mengusung ‘perbedaan’ juga merasa paling benar; aksi bela yang damai, makin ramai, makin tidak santai, lalu dijadikan olokan dari sisi yang berlawanan.

Setelah Ahok, kita berhadapan dengan banyak proyek belajar: belajar mendengar suara yang berbeda, belajar meminjam kacamata teman saat melihat sesuatu, belajar mengolah persepsi, belajar menahan judgement, belajar mengendalikan respon, belajar bicara dengan mereka yang berbeda nilai, belajar merasa nyaman dengan perbedaan, belajar arti dari apa yang kita percayai.

Dan di saat yang sama belajar mengawal bangsa ini supaya tak hanya orang-orang ‘berkepentingan’ saja yang bermain di dalamnya. Jika kita tetap seacuh itu, kitalah yang bersalah jika keadaan ini terulang kembali.

Ini tidak akan mudah. Namun, kita sedang masuk Season 2. Bersiaplah.

Leave a comment