Catatan Tiga Bulan

14680588_10155156947545656_7691863378763599302_n

Foto: Koleksi pribadi dan Matiinu Ramadhan

Prinsip hidup saya yang ingin seperti Moomin saja, yang hanya ingin hidup dalam kedamaian, menanam kentang, dan bermimpi diusik tiga bulan ini. Entah apa yang merasuki saya saat mengiyakan permintaan (atau penunjukkan?) menjadi ‘penjaga’ proyek Charity Dinner iniJebakan Batman selalu terjadi di pemilihan ketua panitia proyek di lingkaran relawan ini. Biasanya mereka menunjuk orang yang terpilih, bukan meminta. Penunjukkan yang lebih sering terasa sebagai jebakan, tapi toh dijalani juga.

Dua hal pertama yang penting untuk dilakukan adalah: meminta perlindungan sang kakak yang mengajukan nama saya – dia harus bertanggung jawab mendengar semua keluhan saya, lalu menelepon dua teman terdekat untuk menggoda mereka ambil bagian.

Syukurlah mereka bilang iya. Syukurlah mereka dan lima puluh empat orang lainnya bilang iya

Entah mengapa mereka mengiyakan ajakan saya. Apa mereka yakin kalau ini semua akan baik-baik saja? Padahal saat saya pertama kali mengajak mereka pun, saya tidak punya kepercayaan diri itu. Muka tenang yang sudah dilatih bertahun-tahun terakhir jadi andalan saya, dan mereka percaya. Gila.

Perjalanan – untuk menciptakan sesuatu dari yang tidak ada, mengakomodir pihak-pihak yang punya kepentingan dan keinginan yang berbeda, menemui generasi yang semuanya punya kecintaan terhadap organisasi ini dengan caranya masing-masing, dan memastikan tim tetap punya ruang buat berkreasi – dimulai dan lalu berakhir di satu malam saja.

Tapi buat saya, momen-momen yang tersisa ada di tengah pembentukan tim yang strukturnya adalah sebuah eksperimen hasil diskusi lewat tengah malam di lantai mezzanine kosan sahabat, di antara ketidaktahuan teknis, di hadapan orang-orang asing yang tahu-tahu datang karena terpikat kisah sekte relawan yang mereka dengar, di depan relawan muda yang berharap diarahkan tapi sebenarnya sedang diceburkan, di sisi mereka yang berbagi frustasi bersama, dalam rasa bangun pagi dengan ratusan pesan hasil obrolan dan koordinasi lewat tengah malam dari empat grup Whatsapp yang berbeda, di balik penemuan lagi kakak-kakak baik hati dan mengembalikan rasa pulang yang dulu pernah dihilangkan, dalam ketidaknyamanan bertanggung jawab atas kesalahpahaman, dan tertinggalnya jejak obrolan pulang kantor di  restoran dimsum 24 jam.

Satu-satunya penyesalan saya adalah pantulan energi negatif yang saya bagikan saat terpaksa harus duduk di depan komputer kala semua orang sedang melakukan koordinasi dan persiapan akhir. Setengah negatifitas muncul karena semua berjalan tanpa saya; how come everyone’s fine without me? Setengahnya lagi frustasi  karena tidak mampu membagikan energi saya untuk mereka, padahal sudah minum Red Bull tambahan untuk tujuan ini. Lalu saya sadar: ketidakhadiran saya selama persiapan mungkin jadi hal yang terbaik untuk tim ini. The team’s doing a great job exactly because they’re fine without me. Di ujung malam berita penghiburan datang: yang saya lakukan seharian itu, terpaku di depan komputer, berhasil. Ada mereka yang akan kehilangan emosi yang malam itu tawarkan kalau saja saya tidak menuntaskan apa yang saya kerjakan.

Saya butuh menyampaikan ini: malam itu tidak akan ada tanpa para relawan baru yang profesional memimpin dan memastikan teknis logistik terpenuhi dan jalannya acara terkoordinasi; tanpa para perfeksionis yang mengiyakan segala permintaan dan mengingatkan semuanya itu bisa kalau mau (dan punya cukup waktu); tanpa inisiatif mereka yang bergerak melebihi yang diminta walaupun kadang gerakannya masih dalam kebingungan yang menggemaskan.

Maka semua pujian dan ucapan terima kasih dari mereka yang merasa malam itu sukses,  tidak bisa saya terima, karena itu semua milik mereka yang menaruh hati dan waktu mereka untuk percaya bahkan saat saya ragu. Momen-momen yang memang perlu dievaluasi tidak mengurangi kebanggaan saya atas mereka.

Tiga bulan ini selesai dalam kelegaan dan kerinduan akan mereka, akan menemukan hubungan baru karena ketertarikan dan rasa penasaran, akan bekerja dalam frekuensi profesionalitas yang sama; dan dalam rasa syukur karena boleh kembali merasakannya. Karena itu dengan segala kerendahan hati, terima kasih, Kakak-kakak.

img_1866screen-shot-2016-11-29-at-1-16-23-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-16-58-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-16-03-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-21-35-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-21-46-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-36-01-pmscreen-shot-2016-11-29-at-1-36-14-pmimg_3193

 

 

Leave a comment