Setelah ribuan revisi dan ketidakpuasan, Seumpama dan Terbang diperkenalkan di 1/15 Coffee Christmas Market bersama Køkken, 11-13 Desember kemarin. Ini cerita perkenalannya. Seumpama kini hadir di Instagram dan Facebook, dan sedang dipersiapkan websitenya.
Tepat setahun yang lalu, salah satu sahabat saya menghubungi saya. Saya baru sebulan kembali dari London dan sedang mencoba mengelola ekspektasi saya buat tahun 2015, sesuatu yang saya rasa perlu lakukan karena setelah menerima beasiswa, menghabiskan setahun lebih terakhir di kota seperti London, dan melewati area seperti Westminster Abbey dan Trafalgar Square senormal pergi ke Kemang tentu membuat saya berharap banyak ke diri saya sendiri. Jakarta adalah realita saya. Walaupun saya tahu saya punya hal yang ingin saya tawarkan, penawaran saya kemungkinan tidak akan langsung bisa terdengar. Saya mempersiapkan diri saya ke situasi yang terburuk: gagal.
Setelah saya pikir lagi, mungkin kegagalan bukanlah hal yang paling menyeramkan. Saya sudah pernah merasa gagal, tapi mungkin ini fenomena generasi milenial, sosial media membuat saya merasa orang lain begitu kece, padahal saya begini-begini saja. Saat teman saya melakukan sesuatu yang ‘terpandang’ dan saya ada di garis pinggir dan menonton, saat saya berusaha mencoba unjuk gigi tapi seringnya cuma bisa gigit jari, saat saya berbuat sesuatu yang sudah cukup oke tapi teman yang lain sudah berlari lebih jauh. Kegagalan saya cuma isu eksistensialisme, bukan primal; tidak ada yang sampai bikin saya mati kelaparan. Malah kebanyakan di tengah keluhan saya, saya masih nongkrong di coffeeshop tanpa memikirkan besok saya makan apa. Saya bagian dari kelas menengah yang mengesalkan itu.
Sebulan sebelum saya pulang dari London, saya menyusun rencana. Saya menghubungi orang tua saya dan memberitahu mereka bahwa saya tidak akan kembali ke kantor lama saya, saya akan mulai bekerja dan memulai usaha – yang saya belum tahu apa, dan untuk sementara waktu saya tidak akan bisa diandalkan untuk memberi bantuan finansial buat keluarga. Ibu saya, seperti biasa, bilang iya, tanpa yakin dengan apa yang sebenarnya dia iyakan.
Singkatnya, saya tahu saya mau melakukan apa, saya cuma tidak tahu apa yang ingin saya lakukan, semoga bisa dipahami. Jadi saat teman saya tahu-tahu dating dan bilang, “Gua ingin nulis deh. Lo pengen ngelakuin sesuatu dengan itu gak?” Saya bilang, “It’s already in my perhaps-this-is-something-that-I-can-do list, tapi belum gua follow up. So, how do you wanted to do this?”
Lalu setelah itu kami mulai. Di awal tahun 2015 kami mulai merumuskan apa yang bisa dan perlu kami kerjakan. Kami bikin riset pasar kecil-kecilan (karena saya sudah mulai bekerja sambilan di bidang ini, dan disertasi saya fokus ke pentingnya membiasakan melakukan riset pasar buat bisnis start-up di Indonesia), kami bicara dengan teman-teman terdekat tentang ide ini dan banyak dapat masukan, dan saya mencoba mengalahkan waktu dan diri saya; ini pertama kalinya saya akan menggambar untuk konsumsi orang banyak dan yang paling menyeramkan: ini untuk anak-anak. Those pure minds of children, how I’m going to infiltrate their minds. Kalau saya salah bicara, bayangkan apa yang terjadi dengan mereka!
Akhirnya, perkenalkan: Seumpama. Kami menyebutnya sebagai studiobuku karena ini tempat kami bekerja: menulis, mencetak, dan mendukung karya yang kami rasa perlu ada atau terus ada. Kami ingin jadi toko buku, yang juga mencetak karya. Meskipun Terbang, buku pertama yang Seumpama terbitkan adalah buku ilustrasi cerita anak, lini penerbitan kami ingin mendukung karya yang kami rasa perlu ada, terlepas genre-nya.
(Saya pribadi memang masih mau fokus di karya cerita ilustrasi untuk anak sementara ini karena saya merasa ruang eksplorasinya masih begitu luas.)
Perjalanannya masih sangat panjang, tapi kami mendapatkan begitu banyak kehangatan dan dukungan saat Seumpama berkenalan dengan teman-teman baru minggu lalu. Terima kasih buat semua yang sudah begitu mendukung dan membuat proyek ini begitu dekat dengan hati kalian. Doakan kami ya. (Terutama rekan saya, Ninit, yang melakukan ini sambil menjadi istri, ibu, anak, menantu, wanita hamil, mahasiswa, dan pekerja di salah satu konsultan PR. Dia memang maruk, saya sudah bilang itu, tapi dia terlalu keras kepala untuk menyerah.)


Leave a comment