Minggu Siang

WRI_Salihara Minggu Siang

Galeri Salihara, February 2015; On Pameran Seni Perempuan Norwegia: Extensive – The Other Side.

Apa yang terjadi di luar manusia, hal-hal yang mengelilinginya; apa yang ada di sekitar saat kira merasa, apa yang “murka” saat kita jumawa?

Mungkin – mungkin sekali – pilihan kata-kata tadi cuma sepotong pikiran yang tidak tuntas, yang tidak punya rasa untuk diperpanjang karena tumpahnya ( atau ‘pengapnya’, saat tumpah tidak dimungkinkan karena tutup botol yang dikenakan terlalu kencang. Bila itu terjadi, kendurkanlah.) mata melihat gunung yang menjadi megah dari kesendirian kapur yang bermain di tembok, yang lewat usapan jemari jadi melenggok merayu agar bertambah megah. Hebatnya, tak sekalipun dia bermegah.

Tidak juga saat seribu satu macam benda yang pernah melintas di hidupmu ditata, dikeluarkan satu per satu. Padahal mereka mati, dan sudah tidak dipakai lagi. Di awal ada rasa bangga karena semua barang itu milikmu – hanya saja, dulu. Olehnya hidupmu diwarnai, diberi arti, diberi tambahan arti. Namun ya sudah, begitu waktu mereka selesai, arti mereka hilang, warna yang mereka miliki – walaupun tak pudar cat yang dipakai – sudah tidak lagi relevan untukmu. Merah sudah bukan lagi warnamu, kini kamu suka warna biru, atau monokromatik: hitam, putih, abu.

Aneh rasanya melihat Orang Lain melihat harta dari apa yang kau punya (dulu). Oleh orang itu barangmu – yang kini jadi sampahmu – dipilah lalu dipilih. Dibaginya berdasarkan bentuk, ukuran, warna, tanpa sedikitpun menengokmu untuk menanyakan arti, kenapa si buaya plastik itu pernah menjadi milikmu, seorang gadis keturunan Cina. Padahal kau ingin bilang, “Boleh tidak buaya itu masuk ke panggungmu, yang platform-nya lebih tinggi, supaya dia bisa gampang kulihat.” Padahal si buaya plastik itu lebih berarti dari buku diary semasa SD yang isinya biodata teman-teman yang saat ini pun tidak kau balas sapaannya via obrolan forum chat karena malas memberikan konteks hidupmu saat ini.

Orang Lain, dia memilih warna senada supaya buaya plastikmu bisa dikumpulkan dengan teman-teman sewarnanya. Jadi, kau pun megap: karena tidak bisa menemukan buayamu – dia sudah menghablur dengan teman-teman sepermainannya yang sewarna – kau merasa Buaya Plastik diberi entitas yang sama seperti semua warna hijau, padahal dia bermakna karena hijau coklat kulitnya diberi ornament sisik, karena gigi tajamnya kamu sikat setiap hari. Kini dia jadi banal – kata orang itu artinya biasa. Kamu pun megap, kau lupa indahnya. Lalu kau lihat lebih dekat, ternyata kau kenal semua benda di sekitar Buaya Plastik. Kau hitung si Buaya Plastik tambah Kaktus dan Boneka Bebaju Hijau dan Berambut Pirang, jumlahnya sumringah. Kau lupa mereka dulu pun ada. Kau lihat lagi, dan kau pun kenal semuanya. Tapi mereka sudah masuk Kotak Sampah, termasuk si Buaya. Kau tidak menyesal, tidak sedih karena mereka di sana. Justru itu, katamu, rasanya aku megap karena aku tidak tahu ini rasa apa. Ada yang ingin kutumpahkan, makanya kumuntahkan saja semua kepadamu, kau kan tidak akan pergi meninggalkanku.

WRI_Salihara Minggu Siang_06 WRI_Salihara Minggu Siang_07

Leave a comment