Maria, Noa, Tini, Leila.

I.

“Jadi, kamu dulu sempat ikut wajib militer?” tanyaku takut-takut. Aku sudah lama sekali ingin menanyakan ini, tetapi situasinya tidak pernah tepat. Setelah malam ini aku yakin, tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk untuk menanyakan ini ke Noa. Jadi di tengah pertandingan Brazil lawan Meksiko, di tengah suara teman kami yang sudah mulai agresif karena sudah minum dua bir ditambah frustasi karena Brazil belum berhasil mencetak gol, aku yang sudah setengah mabuk pun bertanya.

Kalau dipikir-pikir, aku sebenarnya sudah pernah punya teman orang Yahudi, tapi ini pertama kalinya aku punya teman dari Israel. Akhirnya. Aku sudah lama sekali ingin menanyakan bagaimana rasanya hidup di area itu, karena setiap kali mendengar liputan tentang area tempat Noa tinggal, perutku pusing – bukan sakit, pusing. Semua pembagian dan pencaplokan wilayah, penyerangan, dari mana ke mana, siapa lebih dulu menyerang siapa – sudah terjadi terlalu lama; sejak zaman aku di sekolah minggu.

Noa biasanya bisa bicara lepas dan banyak menggunakan gerakan tangan. Dia mencoba terlihat santai, tetapi mukanya masih terlihat tegang.

“Ya, beberapa tahun yang lalu” katanya tanpa terlihat bangga.

Aku lalu minta maaf kalau ini tidak nyaman untuk dibicarakan.

“Tidak apa-apa. Kamu mau tanya apa lagi?”

Ah, suaranya masih terdengar tegang. Tetapi karena dibolehkan, aku lanjut saja. Kapan lagi – dan siapa lagi – yang bisa ditanyakan hal seperti ini?

“Berapa lama kamu harus melakukannya? Waktu umur berapa? Kamu harus masuk kamp pelatihan? Lalu kamu saat bertugas harus melakukan apa?”

“Aku sih tidak suka, tapi semua orang harus melakukannya. Dua tahun untuk setiap anak muda. Semua teman-temanku juga sama. Aku pikir itu kewajiban yang bodoh dan aneh, tapi kami kan tidak punya pilihan. Tidak, kalau aku tidak belajar menggunakan senjata, walau aku mengerti dasar-dasarnya karena diceritakan oleh teman yang dilatih menggunakan.”

Aku lalu bilang bahwa aku  tidak bisa membayangkan harus belajar militer saat remaja. Lalu, walaupun kami berdua sedang memegang bir, aku belum cukup mabuk untuk kembali bergurau setelah pembicaraan ini. Untunglah Brazil mencetak gol.

Seorang teman memasang tautan di status Facebook-nya, yang kurang lebih bunyinya: “Gila memang dunia”. Tautan itu mengarah ke sebuah website yang menunjukkan gambar-gambar tentara Israel yang semena-mena, dan warga Palestina yang berdarah-darah.

Noa menuliskan komentarnya di status teman tersebut. Dia menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana seharusnya teman tersebut tidak menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, bagaimana seharusnya sang teman juga bicara tentang tiga remaja Israel yang diculik dan dibunuh, tentang serangan Hamas ke Israel.

Di antara teman-teman yang lain, Noa paling dekat dengan seorang dari Libanon. Mereka berbagi banyak kesamaan termasuk: mereka sama-sama tidak bisa mengunjungi satu sama lain. Noa tidak bisa ke Libanon, dan Mira mengaku akan dimarahi ayahnya kalau beliau tahu anak perempuannya pergi ke Israel. Saat pulang ke Tel Aviv, Noa menceritakan tentang Mira ke orang tuanya. Lalu ibunya bilang, “Mungkin kita bisa ke perbatasan dan menyapanya dari jauh. Ibu ingin sekali bertemu dengan temanmu ini.”

II.

Tini mengantuk sekali, dan lapar. Di usianya yang keenam Tini janji ke Ibu dan Bapak akan puasa penuh. “Harusnya bisa ya, Bu, Pak.” Tini sedikit berharap dapat uang Lebaran lebih banyak tahun ini karena sudah bisa puasa penuh. Tapi, dia lebih semangat lagi karena bisa bareng Ibu dan Bapak menunggu bedug berbuka. Tahun lalu, Tini berbuka tanpa suara bedug, hanya suara jam tua kakek yang berbunyi dua belas kali.

Tini mengantuk sekali, dan lapar. Semalam dia tidak tidur. Pulang dari perpustakaan jam sembilan, lalu menunggu waktu buka jam sembilan dua puluh. Lalu dia hanya punya waktu lima jam untuk menabung makan dan tidur sebelum Imsak lagi jam setengah tiga pagi nanti. Taraweh? Tini bahkan belum pernah Taraweh di sini. Sudah terlalu malam biasanya, sementara puasa hari berikut akan dimulai beberapa jam lagi saja. Puasa di musim panas di London ini memang menantang. Sudah harinya panjang, cuacanya panas seperti. Es teh manis pasti enak sekali, kalau bisa diminum di cuaca seperti ini.

Aku mengingatkan Tini supaya hati-hati berpuasa di akhir pekan ini. Kabarnya akan ada heatwave dan suhu udara yang akan mencapai 30 derajat. Panasnya mungkin sama seperti di Jakarta, tetapi bila sudah terbiasa dengan temperatur rata-rata di kisaran dua puluh, besok akan jadi panas sekali. Di mana-mana sudah ada peringatan: “Bawalah botol minum, berteduhlah, dan jaga tubuh Anda agar tetap terhidrasi.” Sepertinya musim panas sudah benar-benar datang.

III.

Namanya Maria “sesuatu”-nova. (Aku selalu lupa walaupun dia sudah mengulanginya lima kali.) Menurut data siswa yang masuk, usianya baru dua belas tahun. Tapi saat aku menjemputnya di Heathrow, yang mendatangiku adalah seorang gadis yang kalau aku berdiri, tinggiku hanya sampai bahunya. Buat ukuran orang Indonesia, dia bongsor sekali. Badannya atletis dan sehat. Dia pakai baju ketat tanpa lengan garis-garis dan celana pendek kuning, tetapi mukanya sudah memerah karena kepanasan. Suhu udara London hari ini 27 derajat. Maria tinggal di Siberia.

“Marsya,” dia memperkenalkan diri. Aku periksa lagi tabel nama anak-anak yang harus aku jemput. Tertulis: Maria. Suaranya lirih nyaris tak terdengar. Dia tersenyum lalu menunduk. Aku memperkenalkan diri. Dia menjabat tanganku sambil tersenyum lagi lalu menunduk. (Aku berani taruhan dia sebenarnya tidak tahu bagaimana menyebutkan namaku dengan benar. Yang dia dengar sebenarnya hanya “Ra-sha-…”.) Dalam bahasa Inggris, aku menanyakan bagaimana penerbangannya, jam berapa dia berangkat dari Moskow, betapa kami bersyukur dia visa kedatangannya terbit tepat waktu. Selama percakapan kami dia hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Katanya, dia juga senang bisa belajar bicara bahasa Inggris di London. Aku bilang, kita harus menunggu kedatangan beberapa teman lainnya, kali ini dari Finlandia. Lalu aku tanya, “Kamu sudah pernah ke Finlandia?” Dia tersenyum lagi sambil bilang, “No, thank you.” Aku mengulang pertanyaanku dengan lebih perlahan supaya dia mengerti.

Marsya (dia meyakinkanku bahwa itulah namanya) masih dua belas tahun. Ini kali pertama dia berpergian tanpa orang tuanya. Aku harap dua minggu ke depan akan menyenangkan dan aku bisa ngobrol lebih banyak dengannya. Aku harap dia tidak terlalu kangen rumah.

IV.

Ketika aku pertama kali bertemu dengan Leila, dia baru saja belajar merangkak. Kemarin, dia sudah bisa berjalan, makan nasi, lalu bicara: “Kaki Ibu.” Kalau aku datang dia akan termenung selama lima belas menit sebelum mengambil buku dari kotak mainannya dan membawanya kepadaku. Lalu dia akan buka halaman yang ada gambar kucing sambil bilang, “Miauu.”

V.

Tadi pagi aku membaca lagi liputan tentang Gaza. Kemarin ada sekelompok anak yang sedang main petak umpet menjadi korban tembakan. Lalu aku tidak bisa lagi membaca. Mataku basah dan semua jadi buram.

Aku sedang menemani Tini di rumahnya – sambil mencoba mencari charger-an iPhone – waktu aku mendengar berita sebuah pesawat komersil milik Malaysia jatuh di Ukraina. Hal pertama yang terlintas: “Apa mungkin bangkai pesawat yang hilang beberapa bulan yang lalu dari maskapai penerbangan yang sama?”

Lalu Presiden Ukraina mengeluarkan pernyataan: ini perbuatan terorisme, militer Ukraina tidak akan menembak pesawat sipil; Presiden Obama menyatakan sudah berbicara via telepon dengan Presiden Putin di Kremlin untuk mengonfirmasi berita (jadi sebenarnya walaupun bersitegang, obrolan via telepon tetap dijalankan. Memang pas bersilaturahmi di bulan Ramadhan); sementara Kelompok Pro-Rusia yang berbasis di Ukraina mengaku: “Kami tidak punya rudal yang bisa menembak setinggi itu.” Mereka bicara rudal saat aku sedang mencari charger. Kita hidup di dunia yang sama, kan?

VI.

Aku cuma ingin satu: menangis dan muntah.  Menangis karena Noa akan pulang ke Israel akhir bulan nanti dan akan lama sekali sampai dia bisa ketemu Mira lagi; karena Marsya harusnya pulang sendirian ke Moskow dalam sepuluh hari dalam situasi seperti ini; karena ingin minta maaf sama Leila atas dunia aneh yang kami oper untuknya.

Aku ingin muntah karena ini semua menjijikkan dan aku ada di dalamnya.

Di doa sebelum tidur malam itu aku bertanya ke Tuhan: ini semua mimpi, kan? Aku tidak ingin bangun besok pagi. Tapi biasanya Leila akan masuk ke kamarku bersama ‘miaau’-nya lalu menunggu sampai aku bangun. Lalu dia akan bilang ‘Miaau..’ supaya aku turun dan memberi si kucing makan.

 

 

 

 

Leave a comment