Serius Menjelang Pemilu

Setiap minggu, menjelang pemilu presiden, saya dan beberapa teman di London bertemu untuk nonton bareng Piala Dunia. Kebetulan dua minggu terakhir ini agendanya berubah dengan dengan nonton bareng debat capres. Let me tell you how this coming presidential campaign affects me:

Tahun ini saya cukup pasif melihat dan mengamati bagaimana teman-teman berkicau dan berteriak untuk kandidat yang mereka dukung. Saya memutuskan tidak terlibat karena, entahlah, rasanya ini bukan pertarungan yang ingin saya mainkan. Tinggal jauh di negara asing mungkin membuat saya malas ‘bertarung’. Lagipula, ada 12,000 kata dalam bahasa Inggris yang harus saya kerjakan sebelum September. Jadi sebaiknya energi saya saya simpan.

Saya memutuskan tidak menulis, membagikan, atau pun menyebarkan pemikiran saya tentang kandidat yang sudah saya pilih. Tapi rumah virtual saya di media sosial sudah menjadi arena pertarungan. (It’s a bloody battle field there, none that I enjoyed.) Saya jengah dengan opini-opini yang menganggap capresnya yang paling benar. Saya terima saja walau pun tidak nyaman karena apa yang menjengahkan saya justru mungkin penting buat Anda sampaikan, and in respect of democracy, I respect that. Lagipula siapalah yang bisa menarik batas area pribadi di media sosial?

Tapi ada yang salah ketika awal bulan ini pertanyaan dari teman-teman di sini tentang, “Jadi, habis kuliah selesai kamu akan pulang?” mulai saya jawab dengan: “Tergantung hasil pemilihan presiden di Indonesia nanti.” Tiga bulan yang lalu, tidak pernah terpikirkan ada pilihan untuk tidak ‘pulang’.

Kata mereka, “Selama ini saya kira kamu akan pulang.” Kata saya, “Saya pun kira begitu.”

Saya pun mulai menceritakan tentang pemilihan presiden yang akan datang, tentang kandidat-kandidat yang ada, tentang ketidakpastian arahan industri kreatif karena tergantung prioritas agenda politik presiden terpilih, dan – dengan sedikit malu dan kesal – tentang tentang gubernur yang meninggalkan masa jabatannya dan katanya orang Cina, tentang mantan jenderal yang masa lalunya menghantui saya sebagai seorang Cina di Indonesia.

Dari dulu menjadi Cina di Indonesia itu susah tetapi menjadi orang Indonesia sangat menyenangkan; maka menjadi Cina-Indonesia itu selalu menjadi kesenangan dalam kesusahan. Seharusnya kami memang tidak lebih spesial ( secara positif atau pun negatif) daripada menjadi Jawa, atau Sumatra. Hanya saja “(i)n the popular mind-set the Chinese have been perceived as foreign and out of place.” Sampai sekarang? Sepertinya begitu, karena walaupun keterasingan itu menipis, dia sesekali masih suka mengintip.

Di semua era, Cina sama dengan asing. Belanda membenci karena merasa ancaman ekonomi dari para pedagang Cina, Jepang memang sudah kadung kesal karena juga sedang mengokupasi Cina daratan di Perang Dunia II, kaum nasionalis Indonesia terpecah karena menganggap kaum nasionalis keturunan Cina sebagai ‘musuh’ yang lebih medukung struktur negara kolonial. Di antara tahun 1960 -1963 orang- orang Cina di Indonesia diberikan kesempatan untuk memilih identitas kebangsaan mereka: mau jadi Cina atau Indonesia – karena memang tidak pernah dianggap langsung jadi orang Indonesia. (Dari cerita ayah saya, sudah ada kapal yang siap mengangkut mereka yang memilih pulang ke Cina daratan. Kakek saya hampir membawa ayah saya ‘pulang’.) Then, we all know the long agonising period of being a Chinese from 1965 to 1998.

Ketika Mei 1998 terjadi, saya sudah cukup besar untuk mengerti anehnya menjadi orang Cina, tapi terlalu kecil untuk pernah menghadapi diskriminasi kasual dan diskriminasi sosial yang ada. Saya tahu betul betapa orang tua saya melindungi kami dari keterasingan, namun di saat yang sama mengajarkan saya untuk melihat posisi kami di masyarakat yang tidak bisa tidak memang sudah tersingkirkan. Saya beruntung, hanya merasakan 12 tahun hidup dalam keterasingan di negara ini. Lima belas tahun terakhir ini kami tidak lagi perlu merayakan tahun baru Cina dengan diam-diam dan mengurus surat-surat di kantor kelurahan menjadi lebih ‘wajar’.

Saya terus meyakinkan diri saya bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi seorang Cina, sama seperti tidak ada yang salah menjadi orang Jawa, Sumatra, ataupun Papua. Maka, ketika menjadi Cina dipermasalahkan lagi di masa kampanye kepresidenan ini, saya sungguh ingin menjitak siapa pun yang memulainya. It’s bollocks. Saya punya hak yang sama untuk hidup di negara ini, seperti siapa pun yang mengaku orang Indonesia. Mereka yang bilang bahwa Indonesia sebaiknya tidak dimiliki ras dan agama tertentu sedang mencabut hak saya untuk mencintai Indonesia. Saat saya tidak lagi boleh mencintai Indonesia karena identitas di balik kulit dan kepercayaan saya, saat itulah pulang ke Indonesia menjadi begitu menakutkan.

Pak Prabowo mungkin memang tidak pernah secara eksplisit bilang ada masalah dengan menjadi Cina di Indonesia (mungkin kampanye tentang Jokowi adalah seorang Cina bisa saja kampanye untuk merusak nama baiknya – who knows?); hanya saja tidak ada kenyamanan buat saya untuk memberikan kepercayaan saya kepadanya. Caranya berkampanye, ide-ide di balik pesan politiknya, orang-orang yang berkoalisi dengan dia adalah tumpukan kejengahan saya. Rekam jejaknya di masa lalu, harus saya akui membuat saya menyadari bahwa kita berhutang banyak kepadanya. Dia melakukan banyak hal atas nama kedaulatan bangsa, yet he also went dirty because of it. Saya tidak meragukan kecintaannya akan bangsa ini, saya hanya memilih Indonesia untuk tidak dicintai dengan cara demikian.

Saya tidak bilang Jokowi akan memberikan kenyamanan yang penuh, masih ada keraguan: apakah dia bergerak sendiri atau hanya menurut kepada konspirasi mereka yang ‘menugasi’ dan apakah kesederhanaan yang selama ini menjadi kekuatannya cukup besar untuk memimpin sebuah negara. Saya memiliki keraguan tapi setidaknya ini bukan ketakutan.

Bagi mereka yang belum pernah hidup dalam ketakutan, tentu Pak Prabowo punya segala yang diperlukan: ketegasan, kapasitas, kepemimpinan. Anda bisa bilang, “mereka yang dulu pernah jadi korban penculikan yang dituduhkan kepada Prabowo saja sekarang mendukungnya.” Untuk itu saya punya segala hormat buat mereka atas kebesaran hati mereka untuk melepaskan masa lalu demi mimpi yang lebih besar.  Tapi sayangnya itu tidak cukup memenangkan saya. Visi saya untuk Indonesia tidak terwakili oleh Pak Prabowo. Mimpi terbesar saya bukanlah sekedar menjadikan Indonesia besar dan kaya, tetapi untuk menjadikan manusia Indonesia punya kebutuhan dasar untuk hidup dan menjadi manusia. Kecukupan sandang, pangan, papan menjadi fana kalau kepercayaan Anda dijegal, kebutuhan Anda bertemu Tuhan dihalangi (atau justru dipaksakan), dan lahir ke dalam etnis tertentu membuat Anda menjadi manusia kelas dua.

Di Alkitab dibilang, manusia tidak hidup dari roti saja (yang lalu dalam konteks keKristenan dilanjutkan dengan kebutuhan manusia untuk membangun hubungan dengan Tuhan). Jadi, rasanya sempit kalau melihat kekayaan materi (perut kenyang dan kecukupan finansial) menjadi parameter kita menjadi bangsa yang berdaulat. Kalau kita selalu memulainya memberikan nilai uang sebagai arti negara ini, bahwa kita akan lebih berdaulat saat ada banyak uang, berapa banyak uang yang bisa diukur untuk nilai kedaulatan diri kita sebagai manusia? Time to time again, saya lebih percaya orang-orang yang hidup bahagia dalam kekurangannya sesungguhnya selalu lebih kaya daripada mereka yang kaya tapi tidak pernah merasa berkecukupan.

Semoga masih bisa pulang ke pantai Indonesia dan lautnya yang hangatnya, serta es teh manis di tengah panasnya hari.

Leave a comment